Buy Now

Life of Hundred Eighty Degrees


          “Ooeekk......” bayi yang baru lahir itu menangis dengan keras. Tapi, itu adalah tangisan kebahagiaan menurut Pak Daniel dan Bu Maria, karena si bungsu yang bernama Gustaf telah lahir dengan selamat tanpa kurang apapun. Ia adalah buah hati pertama Pak Daniel dan Bu Maria setelah delapan tahun menanti kehadiran sang buah hati. Nama lengkapnya adalah Gustaf Gustafsson Daamara d’Riedlief. Nama yang agak-agak aneh di telinga orang indonesia, karena memang ia adalah blasteran perancis-indonesia. Darah perancis itu ia peroleh dari ayahnya. Pak Daniel semakin keras untuk mengembangkan produk-produk yang telah lama dibuat oleh perusahaannya. Hari demi hari pun berlalu, Gustaf kecil tumbuh menjadi balita yang periang, di saat itu pula, kesedihan tertancap pada Pak Daniel dan Bu Maria karena perusahaan Pak Daniel mengalami kebangkrutan sehingga seluruh karyawan-karyawannya terpaksa ia PHK agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi. Akhirnya, Pak Daniel memutuskan untuk menjual satu-satunya aset miliknya yang tersisa, yaitu rumah mewahnya itu. Setelah menjual rumah mewahnya, Pak Daniel dan Bu Maria pindah ke rumah sederhana di kawasan kumuh. Di situ pula, Pak Daniel memulai karirnya lagi menjadi fotografer, sedangkan Bu Maria menjadi tukang jahit keliling.
            Tiga tahun pun berlalu, Gustaf kecil akan mendaftar menjadi murid abru di TK Santo Yoseph yang terletak kurang lebih tujuh kilometer. Bu Maria selalu mengantarnya dengan sepeda butut hasil kerja mnejahitnya. Di sekolah, Gustaf senang sekali karena mempunyai banyak teman. Setiap istirahat, ia bersama teman-temannya selalu bermain di dekat rel kereta api. Untung-untung kalau waktu ada kereta yang lewat, mereka bertepuk tangan sambil menyanyi lagu tentang kereta dengan riang gembira. Pada pukul sepuluh pagi, ibunya selalu menjemputnya dengan sepeda bututnya itu.
            Tahun ini, Gustaf kecil akan didaftarkan oleh ibunya ke Sekolah Dasar. SD itu bernama SDK Franciscus Xaverius. Setelah beberapa hari beradaptasi dengan teman barunya, Gustaf mulai kelihatan prestasinya. Tahun pertama ia mendapat rangking tiga. Begitu pula tahun kedua dan ketiga. Sedangkan pada tahun keempat, ia mulai bergaul dengan teman yang salah. Sejak saat itu ia berteman dengan Tomy, anak tukang adu ayam, Gustaf juga berteman dengan Djimin, yang kata Djimin sendiri ia tidak tahu siapa dan di mana bapaknya sekarang berada. Djimin tinggal bersama kakek dan ibunya.
            Tomy dan Djiminlah teman yang memengaruhinya pada keburukan-keburukan yang dilakukannya. Gustaf sering diajak oleh kedua rekannya itu untuk membolos sekolah lalu pergi ke rentalan playstation atau ke warnet langganan si Tomy. Ia dan kedua temannya itu pernah tertangkap basah oleh Pak Doni, satpam di sekolah itu . tetapi mereka tidak kapok-kapok juga, malahan Toldo mengajaknya mencoba hal baru, yaitu merokok. Tapi karena untuk merokok itu membutuhkan uang serta mereka hanya punya uang pas-pasan. Mereka mengatasi itu dengan mengamen di bus-bus kota. Setelah beberapa kali melakukan hal itu, Gustaf ketahuan oleh sang bunda. Ia dimarahi habis-habisan oleh sang ibu, akan tetapi nasi telah menjadi bubur. Gustaf yang dulu ia sayangi dan rajin, sekarang telah mengeras hatinya. Gustaf lebih senang kalau diajak mengamen oleh teman-temannya daripada mengerjakan tugas-tugas sekolah. Mulai saat itu, Bu Maria merasakan ganjalan di batinnya.
“bagaimana ya cara menyadarkan anak itu?” gumamnya dalam hati.
            Tahun demi tahun berlalu dengan cepat, sekarang Gustaf menduduki bangku kelas enam. Dia telah menempuh enam jenjang itu dalam kurun waktu enam tahun. Di kelasnya ia sering disebut ‘anak rokok’ karena kegemarannya merokok. Menurutnya, itu adalah sebutan yang indah nan menawan karena ia menganggap rokok itu membuat pria semakin jantan serta gagah berani.
            Terik matahari menyengat kulit dengan ganasnya, tiba-tiba Gustaf melabrak sang ibunda.
“Bu, duit bu.........”, ujarnya dengan nada yang keras
“Ibu belum punya uang nak.”, jawab ibunya
“Haaalaaah.. nggak usah bohong deh bu.... paling-paling ibu aja yang gak          mau ngasih duit ke Gustaf!”, pekik Gustaf
“Beneran nak.”
“Halah, terserah ibu saja!” labraknya
            Seketika itu pula setan membisikkan sesuatu yang buruk ke telinga Gustaf, yaitu untuk membunuh sang ibu. Gustaf langsung oleh bisikan setan sehingga ia langsung menancapkan parang yang sedari tadi ia bawa tepat di kepala ibunya.
“Craaakk......”
            Melihat tubuh ibunya dilumuri oleh darah ibunya sendiri, Gustaf langsung ketakutan, pikirannya menjadi kacau balau.
“Duh gimana nih.....ibuuu...ibuuu....”, teriak Gustaf
            Penyesalan serta tetes-tetes air mata saja yang dapat keluar dari pikiran anak itu. Ia tidak mungkin lagi mengharap ibuna hidup di dunia ini untuk yang kedua kalinya. Lagipula, ia tidak mau harus masuk penjara karena hal tersebut.
            Akhirnya ia memutuskan untuk mengubur mayat ibunya di belakang rumah tua yang sudah lama tak berpenghuni.
            Hari-hari berikutnya, ia memilijh untuk meninggalkan rumahnya karena ia ingin mencari jati diri. Awal pencarian jati diri itu, ia masuk agama kristen, sebenarnya ia sejak dulu telah beragama kristen, akan tetapi ia tidak pernah taat ke gereja. Setelah genap satu tahun, ia tidak juga mendapatkan jati diri yang selama ini ia cari-cari. Lalu ia berpindah ke agama hindu di agama ini ia semakin kesulitan karena banyak ritual-ritual yang harus ia laksanakan, sehingga malh tambah membebani dirinya, baik fisik maupun mental. Akhirnya ia memutuskan pindah agama lagi. Ia berpindah ke  agama islam setelah mendengar anak kecil yang sedang melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an di masjid. Lalu, ia mengkrarkan dua kalimat syahadat di masjid Al-Huda. Setelah saat itu, ia mulai belajar sholat, mengaji, dan berbagai hal-hal positif lainnya. Di agama inilah ia mendapatkan jati diri yang telah lama ia cari.
            Saat sedang mengaji, ia bertemu dengan ustadz Li Han, ustadz Li Han adalah imam masjid Al-Huda yang masih mempunyai darah china.
“assalamualaikum,”, sapa ustadz Li Han
“waalaikumsalam, ustadzunaa kariim.”, jawabnya dengan penuh khidmat
“sudah sampai juz berap Taf?” tanya sang ustadz
“alhamdulillah sudah sampai juz tiga belas tadz.”
“alhamdulillah.”
“tadz, bolehkah ana naya sesuatu?”
“oh, selagi ana bisa jawab, insyaallah boleh-boleh saja.”
“tadz, ana mau nanya, ayah ana masih beragama kristen, ana menginginkan      
Ana juga ikut agama Allah ini tadz, tolong ustadz beri solusinya”
“ya ustadz hanya mau bilang kalau nanda ingin mengislamkan ayah nanda,
caranya gampang. Pertama, datangi ke rumahnya dengan penuh kesopanan,
lalu dakwahi sedikit demi sedikit, insyaallah dengan begitu hati ayah nanda
akan luluh, wallahu a’lam bishowab”
“oh begitu ya, syukron tadz”
            Setelah beberapa hari, Gustaf memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya, tentunya setelah pamit dengan ustadz Li Han.
“assalamualaikum tadz..” ujar Gustaf sambil mengetuk pintu rumah sang
Ustadz
“waalaikumsalam”, jawab Ustadz Li Han
“ustadz, saya mau pamitan, saya mau ke rumah bapak dulu..”
“oh.. baik-baik, hati-hati ya nak, semoga dakwahmu berhasil.”
“iya tadz, amiin.”
“ya sudah tadz, assalamualaikum.” Katanya sedari melangkah meninggalkan
rumah ustadz Li Han
“waalaikumsalam.”, ustadz Li Han menimpali
            Jalan yang ditempuh Gustaf tidaklah dekat, namun ia harus naik bus AKAP selama kurang lebih smebilan jam menuju ke barat, belum selesai sampai di situ perjuangannya, ia harus naik bus perdesaan selama dua jam, setelah itu naik ojek selama  lima belas menit.
            Sesampainya di depan rumah, ia menjadi agak canggung, tetapi ia berusaha untuk membulatkan tekadnya. Akhirnya ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah itu. Tok...tok...tok...
“pak??”, ujarnya sambil terus mengetuk pintu
“ya...ya...sebentar”, bapaknya akhirnya membukakan pintu untuk Gustaf
“Pak, bolehkah anakmu ini masuk?”, ujar Gustaf yang agak ketakutan melihat
wajah bapaknya yang sekarang kurang terurus.
“boleh-boleh nak... silahkan masuk..”, jawab bapaknya dengan suara parau
            Setelah beberapa hari di rumah bapaknya, ia memutuskan untuk memulai mendakwahi sang bapak. Pada hari pertama, dakwah Gustaf malah dikira bapaknya sebagai lelucon belaka. Akan tetapi, Gustaf tak patah semangat.
            Hari demi hari berlalu, setelah terus-terusan bapaknya ia dakwahi, akhirnya hati bapaknya mulai luluh terhadap apa yang diajarkan sang anak.
            Pada hari itu, tepatnya pada hari jum’at. Ba’da sholat jum’at, Pak Daniel mengikrarkan dua kalimat syahadat yang dibimbing oleh ustadz Li Han yang telah datang sejak hari rabu lalu. Setelah selesai ikrar, ia pun diajari tatacara sholat, berwudhu, serta amal-amal kebajikan lainnya.
            Akhir cerita, bapak dan anak tersebut bersama-sama hidup di naungan agama islam.
“nak, kehidupan ini bisa berubah seratus delapan puluh derajat ya!”, ungkap
sang bapak
 “ya pak.”, jawab anaknya yang sekarang berganti nama menjadi Abdurashid
As-Segaf.

Koleksi Produk Lainnya :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015. RZ Online Store - Design: Fariz Blogger